Deepfake: Ancaman Baru di Dunia Digital



Deepfake: Ancaman Baru di Dunia Digital - credit for: venturebeat - pibitek.biz - Ransomware

credit for: venturebeat


336-280
TL;DR
  • Deepfake adalah ancaman nyata yang dihadapi oleh banyak organisasi, menurut survei iProov, sekitar setengah dari organisasi yang disurvei mengaku pernah mengalami deepfake.
  • Ajay Amlani, seorang petinggi dari perusahaan keamanan biometrik iProov, menjelaskan bahwa deepfake menjadi ancaman yang signifikan, terutama di wilayah Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Latin.
  • iProov menggunakan alat berbasis AI yang menggunakan cahaya dari layar perangkat untuk memantulkan 10 warna acak pada wajah manusia, sebagai pertahanan utama terhadap deepfake.

pibitek.biz -Peringatan tentang kedatangan "white walker" di serial populer "Game of Thrones" ternyata punya relevansi dengan kondisi dunia digital saat ini. Ancaman yang dihadapi oleh manusia dalam serial tersebut, yaitu para "white walker" yang merupakan makhluk es, mirip dengan bahaya yang ditimbulkan oleh deepfake. Deepfake, yang merupakan konten digital palsu seperti video, gambar, dan suara, kini menjadi ancaman nyata yang dihadapi oleh banyak organisasi. Ajay Amlani, seorang petinggi dari perusahaan keamanan biometrik iProov, menyatakan bahwa deepfake telah berkembang pesat dan menjadi ancaman yang serius.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh iProov, sekitar setengah dari organisasi yang disurvei mengaku pernah mengalami deepfake. Hasil survei yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir tiga perempat organisasi meyakini deepfake yang dihasilkan oleh AI Generatif akan berdampak besar pada organisasi mereka. Namun, yang mengejutkan, hanya sekitar 62% organisasi yang menganggap ancaman deepfake ini serius. Amlani menjelaskan bahwa deepfake kini sudah sangat canggih sehingga sulit dibedakan dari konten asli.

Deepfake dapat menciptakan wajah, suara, dan reaksi seseorang yang benar-benar palsu, bahkan dapat dibuat untuk berinteraksi secara real-time. Hal ini memungkinkan penjahat untuk berpura-pura menjadi seseorang dan melakukan tindakan ilegal. Seiring dengan semakin canggihnya deepfake, ancamannya pun semakin nyata. Sebuah contoh nyata adalah ketika seorang pekerja keuangan di sebuah perusahaan multinasional tertipu oleh deepfake video call yang menampilkan "chief financial officer" palsu. Akibatnya, pekerja tersebut mentransfer dana sebesar 25 juta dolar AS. Contoh lain adalah ketika sebuah perusahaan keamanan siber menemukan bahwa seorang karyawan baru ternyata adalah seorang hacker dari Korea Utara yang berhasil lolos tahap rekrutmen menggunakan teknologi deepfake. Amlani menegaskan bahwa deepfake dapat menciptakan dunia fiktif yang tidak dapat dideteksi. Hasil survei iProov menunjukkan bahwa deepfake menjadi ancaman yang signifikan, terutama di wilayah Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Latin, dengan persentase organisasi yang pernah mengalami deepfake lebih tinggi dibandingkan dengan organisasi di Amerika Utara.

Amlani menjelaskan bahwa banyak pelaku kejahatan berasal dari luar negeri dan seringkali mengincar daerah setempat terlebih dahulu. Hal ini disebabkan oleh sifat internet yang tidak terikat oleh batas geografis. Survei iProov juga menunjukkan bahwa deepfake menempati posisi ketiga dalam daftar ancaman keamanan, berada di bawah pelanggaran kata sandi dan serangan ransomware. Hal ini menunjukkan bahwa deepfake sudah menjadi ancaman yang serius dan perlu ditanggapi dengan serius oleh berbagai organisasi.

Amlani menyoroti bahwa kepercayaan terhadap konten digital kini semakin terancam. Ia menekankan perlunya untuk mempertanyakan segala hal yang kita lihat di dunia online. Ia menyarankan agar setiap orang membangun pertahanan untuk memverifikasi identitas seseorang secara digital. Kemajuan teknologi, seperti peningkatan kecepatan proses dan bandwidth, serta kemudahan berbagi informasi dan kode melalui media sosial, telah mempermudah penjahat untuk membuat deepfake. Ditambah dengan munculnya AI Generatif, membuat ancaman deepfake semakin besar.

Walaupun sudah ada upaya untuk membendung ancaman deepfake, seperti software yang terpasang di platform berbagi video untuk mendeteksi konten yang diubah dengan AI, upaya tersebut masih belum cukup. Sementara itu, penggunaan CAPTCHA sebagai alat verifikasi identitas manusia menjadi semakin kompleks dan sulit diakses oleh beberapa orang, terutama mereka yang lanjut usia atau memiliki masalah kognitif, penglihatan, atau masalah lain. Oleh karena itu, Amlani menyarankan penggunaan biometrik sebagai solusi yang lebih mudah dan efektif dalam melawan deepfake.

Survei iProov menunjukkan bahwa tiga perempat organisasi menggunakan biometrik wajah sebagai pertahanan utama terhadap deepfake. Selain itu, banyak organisasi juga menerapkan autentikasi multifaktor dan alat biometrik berbasis perangkat, serta meningkatkan edukasi karyawan tentang deepfake dan risiko yang terkait dengannya. Amlani juga menjelaskan bahwa tidak semua alat autentikasi sama. Beberapa alat masih kurang canggih dan mudah ditembus oleh deepfake, seperti alat yang mengharuskan pengguna menggerakkan kepala atau mengangkat alis.

Di sisi lain, iProov menggunakan alat berbasis AI yang menggunakan cahaya dari layar perangkat untuk memantulkan 10 warna acak pada wajah manusia. Metode ini menganalisis kulit, bibir, mata, hidung, pori-pori, kelenjar keringat, folikel, dan detail lainnya dari wajah manusia yang asli. Jika hasil analisis tidak sesuai dengan yang diharapkan, kemungkinan besar ada penjahat yang menggunakan foto atau gambar di ponsel atau mengenakan topeng, yang tidak dapat memantulkan cahaya seperti kulit manusia.