- Kantor hukum Australia ngerasa takut sama serangan cyber.
- Serangan phishing dan spoofing makin marak di kantor hukum.
- Kantor hukum harus investasi di sistem keamanan cyber yang kuat.
pibitek.biz -Kantor hukum di Australia lagi-lagi ngalamin masalah keamanan cyber. Bener-bener ngeri, sekitar 50% kantor hukum di sana ngerasa banget kalo keamanan cyber jadi masalah utama buat mereka. Ini bukan kaleng-kaleng, lho! Laporan terbaru "State of CyberSecurity in Law 2024" yang dikeluarin AUCyber, LexVeritas, dan Australasian Legal Practice Management Association (ALPMA) ngasih tahu kalo serangan cyber makin sering terjadi di kantor hukum di Australia. Bayangin, 21% kantor hukum di sana pernah jadi target serangan cyber di tahun lalu.
2 – AI: Ancaman Baru bagi Keamanan Siber 2 – AI: Ancaman Baru bagi Keamanan Siber
3 – Ransomware BianLian Serang Rumah Sakit Anak Boston 3 – Ransomware BianLian Serang Rumah Sakit Anak Boston
Itu artinya, ada peningkatan 7% dari tahun sebelumnya. Gimana mau tenang kalo makin hari makin banyak aja yang jadi target? Yang bikin makin ngeri, serangan phishing makin marak. 81% kantor hukum di sana ngalamin serangan ini. Itu artinya, ada peningkatan 14% dari tahun sebelumnya. Serangan phishing ini kayak nyerang dengan jebakan maut, jadi harus super hati-hati banget nge-klik email atau link dari sumber yang ga dikenal. Serangan spoofing juga ngalamin peningkatan yang lumayan drastis, dari 23% ke 35%.
Serangan ini ngasih informasi palsu untuk nyamar sebagai orang yang terpercaya. Kayak nge-hack akun orang buat ngirim pesan palsu ke temen-temennya. Terus, serangan malware juga naik daun, dari 17% ke 27%. Malware ini kayak virus komputer yang bisa ngerusak sistem dan data penting. Yang bahaya, serangan malware ini bisa masuk ke sistem lewat email, file yang di-download, atau website yang ga aman. Serangan berbasis identitas juga makin sering terjadi, naik dari 25% ke 35%. Serangan ini kayak nge-hack akun orang dan nyamar jadi orang itu buat ngakses data atau uang.
Serangan ini ngasih pelajaran penting banget buat jaga keamanan akun dan informasi pribadi. Keamanan cyber di kantor hukum Australia memang tergolong ga banget. Data di laporan ini ngasih tahu kalo 18% kantor hukum ngerasa sistem keamanan mereka kurang canggih. 26% lainnya malah ga yakin sama sistem keamanan mereka. Cuma 56% kantor hukum yang yakin kalo sistem keamanan mereka bisa ngelindungin mereka dari serangan cyber. Waduh! Peter Maloney, CEO AUCyber, ngeluarin pernyataan yang bikin ngeri. "Beberapa kantor hukum di Australia udah berada di zona bahaya.
Kalo 18% kantor hukum ngerasa ga cukup ngelindungin diri mereka dari serangan cyber, dan 26% lainnya ga yakin sama sistem keamanan mereka, ini udah jadi masalah serius. Kantor hukum harus punya sistem keamanan yang kuat, kalo engga, bisa rugi banyak. Bukan cuma uang, tapi juga reputasi". Emma Elliott, CEO ALPMA, juga ngasih pernyataan yang hampir sama. "Riset terbaru kita ngasih tahu betapa pentingnya kantor hukum punya sistem keamanan cyber yang kuat. Kantor hukum harus memprioritaskan peningkatan ketahanan cyber mereka dengan solusi komprehensif, program pelatihan karyawan yang handal, dan bimbingan dari para ahli.
Kalo engga, mereka bakal kelimpungan menghadapi ancaman cyber yang makin kompleks". Maloney juga menekankan pentingnya kantor hukum buat ngeluarin uang buat beli sistem keamanan cyber. Kantor hukum harus investasi di sistem deteksi dan proteksi yang komprehensif, program pelatihan rutin, dan bantuan dari para ahli dalam hal tata kelola, penilaian risiko, dan kepatuhan terhadap peraturan". Kalo mau aman, kantor hukum harus punya strategi keamanan cyber yang lengkap, termasuk pemantauan deteksi 24/7, simulasi phishing, pembaruan rutin software dan hardware, rencana respons insiden yang terdokumentasi dan diuji, dan edukasi karyawan tentang cara mengenali dan menanggulangi serangan cyber.
Yang ngeri, kalo sistem keamanan cyber ga kuat, kantor hukum bisa ngalamin berbagai kerugian. Yang pertama, bisa ngalamin gangguan operasional, karena sistem dan data mereka bisa rusak. Kedua, bisa ngalamin kerugian finansial, karena data rahasia mereka bisa dicuri atau dihapus. Yang ketiga, bisa ngalamin kerusakan reputasi, karena orang-orang bisa ngira kalo kantor hukum itu ga aman dan bisa ngalamin kebocoran data. Kesimpulannya, kantor hukum di Australia harus serius ngejaga keamanan cyber. Kalo ga, bisa ngalamin kerugian yang besar banget.
Mereka harus investasi di sistem keamanan cyber yang kuat, melatih karyawan tentang cara menjaga keamanan cyber, dan nge-update sistem keamanan secara rutin. Yang paling penting, kantor hukum harus siap menghadapi ancaman cyber yang makin kompleks dan canggih.