- ChatGPT buang air banyak, Haus dan butuh listrik.
- Kita harus ngebuat AI hemat air, Ngebuat lingkungan lebih baik.
- AI harus ngebuat manusia cerdas, Ngebuat lingkungan lebih baik, bukan Haus.
pibitek.biz -ChatGPT, si jagoan ngetik yang lagi hits banget, nggak cuma haus ilmu, tapi juga haus air! Bayangin, setiap kamu ngirim email yang ditulis si ChatGPT, itu sama aja kayak ngabisin satu botol air minum. Kok bisa, sih? Ya, karena ChatGPT yang pake GPT-4 ini emang ngiler sama daya listrik. Dia butuh server canggih yang butuh banyak energi buat jalan. Energi listrik yang digunakan, ujung-ujungnya membutuhkan air buat mendinginkan servernya, karena panas banget.
2 – Kebocoran Data Asuransi Globe Life dan Upaya Pemerasan 2 – Kebocoran Data Asuransi Globe Life dan Upaya Pemerasan
3 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan 3 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan
Nah, kayaknya kamu udah tahu deh, sumber air di bumi ini kan nggak unlimited. Kalo AI makin berkembang, tapi penggunaan airnya nggak dikontrol, bisa-bisa bumi kekeringan. Penelitian dari Washington Post dan University of California, Riverside, membuktikan kalau ChatGPT butuh 519 mililiter air buat bikin email yang cuma 100 kata. Itu tuh lebih dari satu botol air minum standar! Bayangin, kalo sehari kamu kirim ratusan email pakai ChatGPT, berapa botol air yang kebuang sia-sia? Penelitian ini ngebuka mata kita semua.
Ternyata AI yang canggih ini punya kaki yang berat juga. Dia nggak cuma butuh energi listrik, tapi juga sumber daya air yang banyak. Kalo kamu ngelihat dari segi biaya, sih, air sama listrik itu beda-beda. Di beberapa daerah, biaya listrik lebih murah daripada air, jadi server AI lebih banyak didinginkan pake sistem listrik. Tapi di beberapa daerah lain, kayak Washington State dan Arizona, kebutuhan airnya lebih besar. Penelitian ini juga ngungkapin, kalo ChatGPT cuma contoh kecil aja. Bayangin AI yang tugasnya lebih kompleks, kayak ngebuat gambar, ngolah data, atau bahkan ngelatih robot, pasti butuh air lebih banyak lagi.
OpenAI sendiri, si pengembang ChatGPT, ngakuin kalo mereka lagi berupaya buat bikin si ChatGPT lebih hemat air dengan ngeoptimasi sistemnya. Tapi, kayaknya usaha mereka masih perlu diperkuat lagi. Terus gimana dong? Apakah kita harus ngeboikot ChatGPT dan AI lainnya? Nggak juga, sih. Kita cuma perlu ngasih AI ini aturan main yang lebih baik. Kita harus meminimalisir penggunaan AI yang kurang penting, dan fokus ke AI yang punya manfaat yang nyata, kayak di bidang kesehatan, pendidikan, atau lingkungan.
Misalnya, AI bisa digunakan buat ngontrol penggunaan air di pertanian, ngebuat sistem pengolahan air yang lebih efisien, atau bahkan ngebuat teknologi baru buat ngehemat air. Kita juga perlu merangsang para peneliti buat ngembangin AI yang lebih ramah lingkungan. AI yang nggak haus air, nggak boros listrik, dan nggak ngebuang sampah digital. Kalo kita nggak bijak dalam menggunakan AI, bisa-bisa kita jadi korban haus nya sendiri. AI yang seharusnya membantu kita malah jadi vampir yang ngisap sumber daya alam kita.
Kalo kita ngelihat dari segi dampak lingkungan, sih, AI ini kayak pedang bermata dua. Di satu sisi, AI bisa membantu kita ngehemat energi dan sumber daya alam. Misalnya, AI bisa diajak kerja sama buat ngontrol emisi karbon, ngelacak perubahan iklim, atau ngebuat bahan bakar alternatif. Tapi, di sisi lain, AI juga bisa ngebaca data dan bikin keputusan yang nggak ramah lingkungan. Kalo AI yang ngatur sistem industri, misalnya, mereka bisa berpihak ke perusahaan yang lebih nguntungin daripada perusahaan yang ramah lingkungan.
AI juga bisa bikin kita terlena dan tergantung sama teknologi. Kita bisa jadi budak AI yang nggak bisa hidup tanpa mereka. Kalo sistem AI eror atau diretas, bisa-bisa dunia kacau balau. Jadi, kita harus tegas dan bijak dalam menggunakan AI. Kita harus ngebuat AI jadi teman kita, bukan tuan kita. AI harus jadi partner kita dalam membangun masa depan yang lebih baik, bukan musuh yang ngehancurkan planet bumi ini. Kalo AI bisa bersahabat sama lingkungan, dan bersinergi sama manusia, mungkin kita bisa ngebuat dunia ini jadi lebih baik.
Kita harus aware sama dampak AI terhadap lingkungan. Kita harus berani ngebatasin penggunaan AI yang menyeramkan, dan menghidupkan AI yang bermanfaat. Kita harus cerdas dalam memilih dan menggunakan AI, dan waspada sama bahaya yang mungkin ditimbulkan AI. Kalo kita cerdas, berani, waspada, dan bijak, mungkin kita bisa menjinakkan AI dan menjadikan AI sebagai penyelamat dunia. Tapi, kalo kita bodoh, penakut, lalai, dan serakah, kita bisa jadi korban AI. Kita harus berusaha buat memahami AI, berani buat mengatasi masalah AI, dan bertekad buat menciptakan AI yang bermanfaat bagi dunia.