- Data sensitif perlu dijaga ketat.
- DSPM membantu ngejagain data dengan teknologi canggih.
- Implementasi DSPM perlu perencanaan matang.
pibitek.biz -Data ibarat harta karun, apalagi data sensitif. Kalau data kamu hilang atau kena hack, bisa-bisa bisnis kamu amburadul, reputasi ancur, dan pelanggan kabur. Nah, buat ngejagain data, kamu perlu tahu dulu di mana datanya tersimpan dan apa isinya. Itulah gunanya data discovery dan classification. Data discovery ibarat ngecek isi rumah kamu. Kamu harus tau di mana letak brankas, kotak perhiasan, dan dokumen penting. Nah, data classification ibarat ngelabel isi brankas. Kamu harus tau mana yang berharga, mana yang rahasia, mana yang biasa aja.
2 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan 2 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan
3 – Ancaman Cerberus, Trojan Perbankan yang Sulit Dideteksi 3 – Ancaman Cerberus, Trojan Perbankan yang Sulit Dideteksi
Misalnya, kamu punya data kartu kredit pelanggan. Data ini super sensitif, jadi harus dijaga ketat. Kamu harus tau di mana data ini disimpan, bagaimana aksesnya, dan siapa yang berhak ngelihat. Data discovery dan classification adalah dasar dari data security, data governance, dan data protection. Data security ibarat memasang alarm dan CCTV di rumah kamu. Data governance ibarat mengatur siapa yang boleh masuk rumah dan apa yang boleh dilakukan. Data protection ibarat mencadangkan semua isi rumah kamu, jadi kalau ada kejadian buruk, kamu masih punya salinan.
Ngga tau data kamu di mana dan isinya apa, sama aja kayak rumah kamu ngga punya pintu dan jendela. Beresiko banget dicuri! Sekarang banyak banget perusahaan yang ngembangin teknologi data security posture management (DSPM). DSPM ibarat asisten rumah tangga yang ngebantu kamu ngatur dan ngejagain data. Mereka punya alat khusus buat nemuin data, ngelabel data, dan ngatur akses. Pake DSPM, kamu bisa langsung ngejaga data dengan teknologi canggih. Tapi jangan lupa, teknologi aja ga cukup. Kamu harus tau gimana caranya ngatur tim, ngatur proses, dan ngatur kebijakan.
Semua harus berkolaborasi, biar data kamu aman terjaga. Bayangin, kamu punya tim keamanan yang profesional, punya proses yang teratur, punya kebijakan yang jelas, dan juga pakai alat DSPM yang canggih. Wah, data kamu udah kayak di benteng baja, aman banget! DSPM ibarat "superhero" di dunia data security. Mereka bisa ngebantu kamu menemukan data sensitif, mengklasifikasikan data, dan melindungi data dari ancaman. Dengan bantuan DSPM, kamu bisa tidur nyenyak tanpa takut data kamu dicuri. Tapi inget, DSPM juga punya kelemahan.
Ga semua DSPM sama. Ada yang hebat, ada yang biasa aja. Kamu harus pintar milih dan menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis kamu. Gimana sih cara memilih DSPM yang tepat? Kamu harus ngerti kebutuhan bisnis kamu, ngerti fitur DSPM, dan ngerti reputasi vendor. Jangan asal beli! Banyak vendor DSPM yang ngejanjiin waktu "time to value" (TTV) yang cepat. Mereka ngaku bisa ngeluncurin sistem DSPM dalam waktu singkat. Tapi, jangan terburu-buru percaya! TTV ga cuma soal teknologi. Soal orang dan proses juga penting banget.
Gimana cara kamu ngelatih tim, ngatur proses, dan ngelaksanakan implementasi? Semua ini butuh waktu! Kamu harus ngerti, ngelaksanakan DSPM itu kayak ngebangun rumah. Ga bisa langsung jadi! Perlu waktu buat nyusun desain, beli bahan, dan ngebangun satu per satu. Pertama, kamu harus ngumpulin semua stakeholder yang terlibat. Yang penting, ada tim IT, tim keamanan, tim legal, dan tim data. Mereka semua harus setuju dengan tujuan dan manfaat DSPM. Kedua, kamu harus ngejelasin tujuan, definisi, dan metrik yang mau dicapai.
Kamu mau ngelakuin apa dengan DSPM? Apa saja data yang dianggap sensitif? Gimana cara ngukur keberhasilan DSPM? Ketiga, kamu harus dapetin persetujuan dari petinggi perusahaan. Mereka harus ngerti pentingnya DSPM dan ngasih dukungan penuh, baik dana maupun sumber daya. Keempat, kamu harus ngatur tugas dan tanggung jawab masing-masing tim. Siapa yang ngurus data classification? Siapa yang ngatur akses? Siapa yang ngawasi keamanan? Semuanya harus jelas! Kalau semua udah beres, baru deh kamu bisa ngeluncurin DSPM.
Proses implementasinya bisa dibagi jadi beberapa tahap. Pertama, kamu harus nemuin data yang terpapar ke luar. Misalnya, ada data yang bisa diakses oleh orang lain tanpa izin. Data ini harus segera diamankan. Kedua, kamu harus nemuin data yang penting banget buat bisnis kamu. Data ini harus dijaga ketat, karena kalau hilang bisa bikin bisnis kamu hancur. Ketiga, kamu harus ngelabel data berdasarkan kategorinya. Misalnya, data kartu kredit masuk kategori "sensitive", data internal masuk kategori "internal", dan data publik masuk kategori "public".
Keempat, kamu harus nentuin siapa yang punya tanggung jawab atas data. Setiap data harus punya pemilik, yang bertanggung jawab buat ngejagain data tersebut. Kelima, kamu harus ngecek siapa aja yang punya akses ke data sensitif. Akses yang udah ga perlu lagi harus dihapus. Keenam, kamu harus batasi akses data sesuai kebutuhan. Siapa yang hanya perlu ngelihat data, siapa yang hanya boleh ngedit, dan siapa yang punya akses penuh. Ketujuh, kamu harus ngecek konfigurasi sistem. Ada ga konfigurasi yang beresiko? Misalnya, ada sistem yang belum di-patch atau ada aplikasi yang punya celah keamanan.
Kedelapan, kamu harus ngelompokkan data berdasarkan jenisnya. Misalnya, data pelanggan, data finansial, data internal, dan data rahasia. Kesembilan, kamu harus nentuin cara ngejagain data sesuai kategorinya. Misalnya, data kartu kredit perlu dienkripsi, data internal perlu dijaga aksesnya, dan data publik bisa diakses secara bebas. Banyak orang yang ngerasa kesulitan ngelaksanakan DSPM. Mereka ngeluh ribet, lama, dan mahal. Padahal, DSPM itu penting banget buat ngejagain data kamu. Mungkin kamu beranggapan kalau data kamu aman-aman aja, ngga perlu dijaga ketat.
Tapi, ngga ada jaminan kalau data kamu aman. Kejahatan dunia maya semakin canggih, dan hacker selalu mencari celah untuk mencuri data. Bayangkan, kalau data kamu dicuri, reputasi bisnis kamu akan hancur, pelanggan akan kabur, dan kamu bisa kena denda yang besar. Risikonya terlalu besar! Mungkin kamu juga beranggapan kalau DSPM mahal. Tapi, bandingkan dengan kerugian yang bisa terjadi kalau data kamu dicuri. Harga DSPM itu jauh lebih murah daripada biaya perbaikan dan kompensasi. Ada banyak contoh perusahaan yang mengalami kerugian besar karena data mereka dicuri.
Perusahaan ini terpaksa membayar denda jutaan dolar, mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki sistem, dan kehilangan kepercayaan pelanggan. DSPM itu bukan soal "mau atau tidak mau". Ini soal "harus!" Kamu harus ngejagain data kamu dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!