- Apple A18 Pro memiliki performa CPU tercepat di antara semua chipset yang diuji.
- Chipset ini lebih efisien dibandingkan dengan pendahulunya dan memiliki peningkatan CPU yang signifikan.
- Pertempuran antara Apple dan Android dalam hal performa dan fitur akan terus berlanjut.
pibitek.biz -Peluncuran iPhone baru selalu menjadi momen yang dinantikan oleh para penggemar teknologi, terutama bagi mereka yang gemar menguji performa perangkat. IPhone 16 Pro dan Pro Max hadir dengan chipset Apple A18 Pro yang menjanjikan peningkatan performa signifikan dibandingkan dengan pendahulunya. Chipset ini mengusung peningkatan pada bandwidth memori, CPU yang lebih tangguh, dan efisiensi energi yang lebih baik. Penasaran bagaimana performa chipset Apple A18 Pro dibandingkan dengan para pesaingnya di platform Android? Untuk menguji kemampuannya, para penguji membandingkannya dengan beberapa perangkat Android terbaru yang ditenagai oleh Snapdragon 8 Gen 3 dan Tensor G4.
2 – AI Ini Bantu Manusia Temukan Jati Diri 2 – AI Ini Bantu Manusia Temukan Jati Diri
3 – SimpliSafe Rilis Layanan Pemantauan Aktif Waktu Nyata 3 – SimpliSafe Rilis Layanan Pemantauan Aktif Waktu Nyata
Di atas kertas, konfigurasi CPU Apple dengan enam core dan kecepatan clock yang lebih rendah tampak kurang menarik dibandingkan dengan para pesaingnya. Akan tetapi, desain khusus Apple pada arsitektur Arm memungkinkan chipset ini untuk menyelesaikan tugas dengan lebih efisien di setiap siklus clock, hal ini terlihat jelas pada hasil benchmark single-core. Hasil benchmark menunjukkan bahwa Apple A18 Pro memiliki kinerja CPU tercepat di antara semua chipset yang diuji. Dalam benchmark GeekBench 6, Apple A18 Pro berhasil mengungguli Snapdragon 8 Gen 3 yang terdapat pada Galaxy S24 Ultra dengan keunggulan 35% pada tes single-core.
Meskipun demikian, keunggulan tersebut tidak terlalu mencolok pada tes multi-core, di mana Apple A18 Pro hanya unggul 11% dibandingkan Snapdragon 8 Gen 3. Sementara itu, Tensor G4 yang terdapat pada Pixel 9 Pro XL jauh tertinggal, Apple A18 Pro berhasil melampaui Tensor G4 dengan selisih 56% dan 66% pada masing-masing tes single-core dan multi-core. Bagi pengguna iPhone 15 Pro atau Pro Max, peningkatan performa yang ditawarkan oleh Apple A18 Pro terbilang kurang signifikan. Peningkatan pada single-core hanya mencapai 5% dan multi-core hanya 8%, yang tidak akan memberikan perbedaan yang berarti dalam responsivitas aplikasi.
Peningkatan ini juga berada di bawah klaim Apple yang menyebutkan peningkatan 15%. Akan tetapi, Apple juga menekankan bahwa chipset ini lebih efisien karena diproduksi dengan menggunakan proses manufaktur yang lebih canggih (TSMC 3nm) dibandingkan dengan para pesaingnya. Efisiensi yang lebih baik ini berpotensi memberikan daya tahan baterai yang lebih lama untuk penggunaan yang sama. Di sektor gaming, para penggemar Apple mungkin akan merasa kurang terkesan. Skor GPU enam core pada A18 Pro hampir sama dengan A17 Pro yang ada di iPhone 15 Pro, yang menunjukkan bahwa arsitekturnya tidak mengalami perubahan signifikan.
Hal ini menjelaskan mengapa Apple lebih sering membandingkan chipset barunya dengan chipset lama. Meskipun demikian, iPhone 16 Pro Max mampu mencapai skor stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan iPhone 15 Pro dalam uji benchmark yang dijalankan dalam waktu lama. Dalam uji WildLife Extreme dan SolarBay dari 3DMark, iPhone 16 Pro Max berhasil meraih skor stabilitas 75% dan 86% dibandingkan dengan 67% dan 70% yang diraih oleh iPhone 15 Pro. Hal ini menunjukkan bahwa iPhone 16 Pro Max dapat mempertahankan frame rate yang lebih tinggi dan meminimalkan penurunan frame rate selama sesi bermain game yang lama.
Meskipun A18 Pro tidak secara langsung lebih kuat, efisiensi yang lebih baik memungkinkan chipset ini untuk mencapai potensi penuhnya dalam waktu yang lebih lama. Jika dibandingkan dengan perangkat Android terbaik, A18 Pro terbukti 60% lebih cepat daripada Arm Mali-G725 yang terdapat pada Tensor G4. Hasil ini sekali lagi membuktikan bahwa Tensor G4 bukanlah chipset yang unggul di sektor gaming. Pixel terbaru juga tidak mendukung ray tracing, sehingga pengguna yang menginginkan fitur ini harus memilih perangkat yang ditenagai oleh Snapdragon 8 Gen 3.
Snapdragon 8 Gen 3 mampu mencapai kecepatan 24% lebih tinggi dibandingkan dengan A18 Pro dalam pengujian rasterisasi standar dan 46% lebih cepat dalam pengujian ray tracing. Samsung Galaxy S24 Ultra mampu mengungguli iPhone 16 Pro Max dalam hal performa grafis, tetapi skor stabilitasnya dalam uji benchmark berkelanjutan hanya mencapai 57%. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keandalan performanya dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, Snapdragon tetap menjadi chipset gaming yang lebih baik, terutama pada perangkat gaming yang dilengkapi dengan sistem pendingin yang lebih canggih.
Apple A18 Pro yang terdapat pada iPhone 16 Pro dan Pro Max berhasil meraih beberapa keunggulan penting. Chipset ini lebih efisien dibandingkan dengan pendahulunya, yang akan disambut baik oleh para gamer, dan memiliki peningkatan CPU yang cukup signifikan untuk menjaga responsivitas aplikasi tetap optimal. Akan tetapi, peningkatan performa secara keseluruhan dari A17 Pro terbilang tidak signifikan. Mungkin Apple telah mencapai batas maksimal peningkatan performa dari arsitektur yang mereka gunakan saat ini.
Namun, tentu saja, performa bukanlah satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Apple telah menginvestasikan sumber daya untuk meningkatkan performa Neural Engine-nya sebesar 30%, yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja fitur Apple Intelligence (ketika akhirnya tersedia). Akan tetapi, beban kerja AI sangat beragam, sehingga peningkatan performa tersebut kemungkinan tidak akan berlaku untuk semua kasus. Perangkat Android saat ini dapat bersaing dengan ketat, dengan kemampuan gaming dan AI yang mengesankan.
Meskipun demikian, Tensor G4 Google masih tertinggal jauh dari iPhone terbaik dalam hal metrik performa klasik dan mengandalkan keunggulan fitur AI untuk bersaing. Beberapa minggu lagi kita akan disuguhkan dengan chipset Android generasi berikutnya. Chipset ini berpotensi untuk mengungguli chipset Apple di berbagai aspek, selama mereka mampu memberikan peningkatan performa yang signifikan. Tentu saja, setiap perangkat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. IPhone 16 Pro Max mungkin memiliki performa CPU yang mengesankan, tetapi kamera yang kurang memuaskan dan kurangnya dukungan untuk kartu microSD menjadi kelemahan yang signifikan.
Di sisi lain, perangkat Android mungkin memiliki berbagai fitur yang lebih lengkap dan lebih hemat biaya, tetapi terkadang kinerja perangkat ini tidak sekonsisten dengan iPhone. Pada akhirnya, keputusan untuk memilih iPhone 16 Pro Max atau perangkat Android lainnya tergantung pada preferensi dan kebutuhan masing-masing pengguna. Jika pengguna menginginkan performa CPU yang prima, iPhone 16 Pro Max bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika pengguna menginginkan perangkat dengan fitur yang lengkap, dukungan kartu microSD, dan harga yang lebih terjangkau, perangkat Android mungkin lebih sesuai.
Pengalaman pengguna juga sangat dipengaruhi oleh ekosistem aplikasi dan layanan yang tersedia pada masing-masing platform. Apple memiliki ekosistem yang terintegrasi dengan erat, sementara Android menawarkan fleksibilitas dan kustomisasi yang lebih besar. Perkembangan teknologi mobile terus berkembang dengan pesat. Para produsen terus berlomba-lomba untuk menghadirkan perangkat yang lebih canggih dan inovatif. Pertempuran antara Apple dan Android dalam hal performa dan fitur akan terus berlanjut, yang pada akhirnya akan menguntungkan para pengguna.