Gemuruh Protes, Meta Ambil Data Pengguna Tanpa Izin



Gemuruh Protes, Meta Ambil Data Pengguna Tanpa Izin - photo source: nypost - pibitek.biz - Facebook

photo source: nypost


336-280
TL;DR
  • Meta mengumpulkan data postingan pengguna untuk melatih AI.
  • Pengguna Facebook dan Instagram merasa marah dan khawatir tentang privasi data.
  • Meta harus memprioritaskan privasi dan transparansi pengguna dalam pengembangan AI.

pibitek.biz -Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, telah merilis teknologi AI yang dilatih menggunakan postingan pengguna. Langkah ini memicu kemarahan dan kecaman dari pengguna di seluruh dunia, terutama di Inggris Raya. Pengumuman bahwa Meta akan memanfaatkan postingan publik untuk melatih model AI-nya, sebuah program mirip ChatGPT yang disebut Llama 2, telah diumumkan setahun yang lalu. Namun, rencana terbaru Meta untuk mengumpulkan data dari pengguna di Inggris Raya dalam beberapa bulan mendatang telah memicu kekhawatiran dan kemarahan yang meluas.

Meta menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk menciptakan AI Generatif yang "akan mencerminkan budaya, sejarah, dan idiom Inggris". Rencana ini muncul setelah Meta menangguhkan pengembangan AI yang lebih personal di Inggris Raya pada bulan Juni karena bertentangan dengan undang-undang privasi Uni Eropa. Namun, pada bulan lalu, badan pengatur di Inggris Raya menyetujui percobaan AI secara eksperimental di bawah pengawasan ketat. Banyak pengguna di Inggris Raya merasa marah dan tersinggung dengan rencana Meta ini.

Mereka menyatakan bahwa Meta "bisa pergi" dan mempertanyakan hak Meta untuk menggunakan postingan mereka tanpa persetujuan. Mereka merasa bahwa Meta telah "meminta" mereka untuk tidak membiarkan data mereka digunakan untuk melatih AI. Meta menegaskan bahwa pesan pribadi pengguna dengan teman dan keluarga tidak akan digunakan dalam pelatihan AI, begitu pula konten dari pengguna di bawah usia 18 tahun. Perusahaan ini juga menyediakan fitur "formulir keberatan" untuk pengguna di Inggris Raya yang ingin menolak penggunaan data mereka.

Namun, fitur "formulir keberatan" ini hanya tersedia untuk pengguna di Inggris Raya. Meta telah memperbarui kebijakan privasinya pada bulan Juni untuk mengizinkan pengumpulan data postingan publik dari pengguna Amerika Serikat. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai kurangnya perlindungan privasi bagi pengguna di Amerika Serikat, mengingat kurangnya undang-undang privasi yang ketat di negara tersebut. Meskipun demikian, informasi yang menyesatkan dan hoax telah beredar luas di media sosial, menyatakan bahwa pengguna dapat mencegah penggunaan data mereka untuk pelatihan AI dengan memposting pernyataan tertentu.

Hoax ini telah disebarluaskan oleh tokoh-tokoh publik seperti Tom Brady, Julianne Moore, dan Ashley Tisdale, serta oleh ratusan ribu pengguna lainnya. Pernyataan palsu ini menyatakan bahwa jika pengguna tidak memposting pernyataan tersebut, maka data mereka akan digunakan oleh Meta. Hoax ini menunjukkan betapa mudahnya informasi menyesatkan menyebar di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran dan kekecewaan di kalangan pengguna. Pengguna Facebook dan Instagram merasakan ketidakadilan dalam situasi ini.

Mereka merasa bahwa data mereka telah diambil tanpa persetujuan dan digunakan untuk keuntungan Meta. Mereka khawatir bahwa Meta tidak akan melindungi privasi mereka dan bahwa data mereka akan digunakan untuk tujuan yang tidak diketahui. Mereka merasa bahwa Meta telah mengabaikan hak-hak mereka dan tidak memberikan kontrol atas data mereka. Mereka juga merasa bahwa Meta tidak transparan mengenai cara pengumpulan dan penggunaan data mereka. Mereka merasa bahwa Meta tidak menghormati privasi mereka dan tidak peduli dengan dampaknya terhadap pengguna.

Kekecewaan mereka semakin besar karena mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain menerima penggunaan data mereka oleh Meta. Pengguna Facebook dan Instagram merasa frustrasi dan berdaya terhadap praktik Meta yang tidak transparan dan tidak etis. Mereka merasa bahwa Meta telah memanfaatkan posisi mereka sebagai platform media sosial terbesar untuk mengeksploitasi data mereka. Mereka tidak memiliki kontrol atas data mereka dan tidak dapat mencegah Meta dari menggunakannya. Mereka merasa bahwa Meta telah mengkhianati kepercayaan mereka dan tidak memberikan layanan yang adil dan transparan.

Pengguna Facebook dan Instagram merasa bahwa Meta tidak bertanggung jawab atas data mereka dan tidak peduli dengan privasi mereka. Mereka mempertanyakan etika dan transparansi Meta dalam hal penggunaan data pengguna. Mereka juga mempertanyakan peran badan pengatur dalam melindungi privasi pengguna. Mereka merasa bahwa Meta telah memanfaatkan celah hukum untuk mengeksploitasi data mereka. Mereka tidak yakin apakah tindakan Meta benar-benar "etis" dan "transparan". Mereka merasa bahwa Meta telah melanggar kepercayaan pengguna dan tidak memiliki hak untuk menggunakan data mereka.

Mereka menuntut Meta untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan memberikan transparansi dan kontrol yang lebih besar kepada pengguna atas data mereka. Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan privasi data di era AI. Pengguna media sosial harus lebih waspada dan kritis terhadap cara perusahaan teknologi menggunakan data mereka. Mereka juga harus menuntut transparansi dan kontrol yang lebih besar atas data mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi harus memprioritaskan privasi dan transparansi pengguna dalam pengembangan AI.

Mereka harus memperoleh persetujuan yang jelas dan informatif dari pengguna sebelum menggunakan data mereka untuk pelatihan AI. Mereka juga harus memberikan opsi keluar yang mudah dan transparan kepada pengguna.