Uber Dorong Adopsi Mobil Listrik



Uber Dorong Adopsi Mobil Listrik - photo from: theverge - pibitek.biz - Green

photo from: theverge


336-280
TL;DR
  • Uber, perusahaan transportasi daring terkemuka, secara aktif mendorong adopsi mobil listrik (EV) untuk para pengemudi.
  • Perusahaan ini berupaya untuk memberikan dukungan dan insentif bagi pengemudi yang beralih ke EV.
  • Uber memiliki tujuan untuk mencapai emisi karbon nol pada tahun 2030 di Amerika Utara dan Eropa.

pibitek.biz -Uber, perusahaan transportasi daring terkemuka, tengah berupaya mendorong adopsi mobil listrik (EV) dalam bisnisnya. Hal ini terwujud melalui serangkaian inisiatif yang diumumkan pada konferensi tahunan Go-Get di London. Uber Green, produk layanan tumpangan yang berfokus pada EV dan kendaraan hibrida, kini telah sepenuhnya beralih ke EV di sejumlah kota terpilih. Uber Green sebelumnya menawarkan pilihan mobil listrik dan hibrida, dengan tambahan biaya untuk pengemudi yang menggunakan kendaraan dengan emisi lebih rendah.

Namun, kini layanan ini hanya akan tersedia untuk mobil listrik. Keputusan ini didorong oleh peningkatan jumlah pengemudi yang menggunakan EV dalam platform Uber. Perusahaan mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 180.000 pengemudi EV di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Uber Green yang sepenuhnya menggunakan EV kini tersedia di 40 kota, termasuk New York City, Los Angeles, New Jersey, Philadelphia, San Francisco, Denver, Phoenix, San Diego, Orange County, Sacramento, Las Vegas, dan Palm Springs di Amerika Serikat.

Di tingkat internasional, layanan ini tersedia di semua kota di Prancis, termasuk Paris, serta kota-kota di Australia dan Selandia Baru, termasuk Sydney, Melbourne, dan Auckland. Untuk memberikan pengalaman yang lebih ramah lingkungan bagi pengguna, Uber telah menambahkan fitur yang memungkinkan mereka untuk menyesuaikan preferensi akun mereka agar secara otomatis terhubung dengan EV jika tersedia. Fitur ini didesain agar jika waktu kedatangan (ETA) EV hanya beberapa menit lebih lama dari kendaraan UberX standar, pengguna akan dihubungkan dengan EV.

Jika selisih waktu lebih lama, algoritma akan menghubungkan pengguna dengan kendaraan berbahan bakar bensin. Langkah ini merupakan kelanjutan dari upaya yang dilakukan Uber tahun lalu untuk mengarahkan pelanggan dan pengemudi menuju pilihan yang lebih ramah lingkungan. Dengan mendorong adopsi EV, Uber berharap dapat mencapai tujuan keberlanjutannya, yaitu mencapai emisi karbon nol di Amerika Utara dan Eropa pada tahun 2030, dan di seluruh pasar global pada tahun 2040. Sebagai bagian dari komitmen ini, Uber telah menjalin kemitraan dengan BYD, perusahaan otomotif terkemuka asal China, pada Juli tahun lalu.

Kemitraan ini bertujuan untuk menghadirkan sekitar 100.000 EV untuk pengemudi Uber yang dimulai di Eropa dan Amerika Latin. Meskipun Uber telah berupaya keras untuk mendorong adopsi EV, namun masih banyak pertanyaan yang diajukan oleh pengemudi terkait peralihan ke EV. Untuk mengatasi hal ini, Uber akan merilis chatbot baru di aplikasi pengemudi pada awal tahun 2025. Chatbot yang didukung oleh GPT-4o dari OpenAI ini dirancang untuk membantu pengemudi dalam menjawab pertanyaan dasar seperti model EV yang tepat untuk dibeli, lokasi pengisian daya, dan perkiraan jarak tempuh yang cukup.

Uber juga merilis program mentor baru melalui pusat sumber daya pengemudi Greenlight. Program ini memungkinkan pengemudi EV untuk berkomunikasi langsung dengan sesama pengemudi yang sedang mempertimbangkan untuk beralih ke EV. Pengemudi Uber yang berpartisipasi dalam program mentor berhak mendapatkan hadiah uang tunai dan bonus lainnya. Langkah-langkah ini mencerminkan upaya serius Uber untuk mendorong adopsi EV dalam bisnisnya. Namun, upaya ini tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai, terutama di daerah terpencil atau di luar kota-kota besar.

Selain itu, biaya awal pembelian EV yang relatif tinggi juga menjadi hambatan bagi sebagian pengemudi. Di sisi lain, Uber menghadapi kritikan pedas dari berbagai pihak terkait kebijakan yang diterapkan perusahaan. Uber dianggap hanya fokus pada keuntungan dan mengabaikan kesejahteraan pengemudi. Model bisnis Uber yang didasarkan pada sistem platform digital dan aplikasi seluler membuat perusahaan terkesan tidak bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan para pengemudi. Meskipun Uber telah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi melalui program mentor dan pemberian bonus, namun hal ini dinilai tidak cukup untuk mengatasi masalah fundamental yang dihadapi oleh para pengemudi.

Uber juga telah menghadapi gugatan hukum dari berbagai pihak terkait kondisi kerja yang tidak adil dan eksploitasi yang dilakukan perusahaan terhadap pengemudi. Uber perlu meningkatkan upayanya dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh para pengemudi, termasuk menyediakan jaminan kesehatan dan pensiun, serta memastikan kondisi kerja yang aman dan adil. Selain itu, Uber juga perlu mempertimbangkan untuk memberikan lebih banyak insentif bagi para pengemudi yang beralih ke EV, misalnya dengan memberikan potongan harga untuk pengisian daya atau memberikan bonus tambahan bagi pengemudi yang menggunakan EV.

Dengan peningkatan adopsi EV, Uber berpotensi untuk mengurangi emisi karbon dan berkontribusi pada upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Namun, untuk mewujudkan hal ini, Uber harus fokus pada upaya yang berkelanjutan untuk mendukung pengemudi dalam beralih ke EV dan membangun infrastruktur pengisian daya yang memadai. Uber telah memulai langkah yang baik dalam mendorong adopsi EV. Namun, perusahaan masih perlu melakukan lebih banyak upaya untuk memastikan keberhasilan inisiatif ini. Keberhasilan Uber dalam mendorong adopsi EV akan bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi, serta kemampuannya untuk membangun kepercayaan dari para pengemudi dan pengguna.