FCC Rilis Kebijakan Kunci Ponsel: Kontroversi Industri Telekomunikasi



FCC Rilis Kebijakan Kunci Ponsel: Kontroversi Industri Telekomunikasi - image source: androidauthority - pibitek.biz - Amerika Serikat

image source: androidauthority


336-280
TL;DR
  • FCC mengusulkan aturan baru untuk membebaskan kunci ponsel dalam 60 hari setelah aktivasi.
  • Kebijakan ini mendapat dukungan dari 88% responden, namun 12% lainnya khawatir tentang dampak negatif.
  • Operator seluler dan konsumen memiliki kepentingan besar dalam keputusan akhir FCC.

pibitek.biz -Komisi Komunikasi Federal (FCC) tengah menyusun aturan baru yang mengharuskan operator seluler di Amerika Serikat untuk membebaskan kunci semua ponsel dalam jangka waktu 60 hari setelah aktivasi. Langkah ini, yang mengutamakan konsumen, bertujuan untuk memberikan kebebasan bagi pengguna dalam memilih operator seluler. Kebijakan ini menawarkan peluang untuk berpindah operator dengan mudah, terlepas dari tempat pembelian perangkat. Selain itu, proses pembaruan software dapat dipercepat karena tidak lagi terikat dengan persetujuan operator sebelum mencapai perangkat.

Ponsel terkunci juga seringkali memuat aplikasi yang sudah diinstal sebelumnya, yang dapat menjadi gangguan bagi pengguna. Namun, tidak semua pihak merasa yakin dengan manfaat dari kebijakan pembukaan kunci 60 hari ini. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Android Authority, platform teknologi terkemuka, menunjukkan bahwa sebagian pengguna memiliki keraguan tentang dampak dari kebijakan ini. Jajak pendapat tersebut melibatkan lebih dari 4.100 responden di situs web, YouTube, dan platform media sosial X (sebelumnya Twitter).

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 88% responden mendukung kebijakan FCC sebagai bentuk kebebasan konsumen, namun 12% lainnya mengumumkan kekhawatiran tentang potensi dampak negatif dari kebijakan ini. Mereka khawatir bahwa kebijakan ini dapat berdampak buruk pada opsi perangkat yang terjangkau dan rencana pembayaran, seperti yang telah diperingatkan oleh operator seluler seperti AT&T dan T-Mobile. Beberapa pengguna mengemukakan pendapat bahwa kebijakan ini dapat memicu peningkatan kasus pencurian perangkat.

Mereka berpendapat bahwa individu dapat mendaftar untuk mendapatkan penawaran menarik, lalu mencuri perangkat dan kabur tanpa memenuhi kewajiban pembayaran. Kendati demikian, mereka mengakui bahwa kebijakan ini tetap berlandaskan prinsip yang baik. Lainnya mengemukakan argumen bahwa membeli ponsel tidaklah rumit. Mereka menekankan bahwa pengguna seharusnya memahami persyaratan dan melakukan perhitungan sederhana sebelum membeli. Jika mereka memutuskan untuk membuka kunci perangkat setelah melanggar kontrak, mereka tetap harus menanggung sisa pembayaran dan biaya terkait lainnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa jika operator seperti AT&T menawarkan perangkat kelas atas seperti ZFold dengan harga $1200 menjadi $300, maka mereka seharusnya memiliki hak untuk mewajibkan pengguna untuk mengikuti rencana pembayaran yang telah disepakati. Operator seluler seperti AT&T memulihkan biaya perangkat melalui pembayaran bulanan selama tiga tahun, sehingga mereka dapat menawarkan perangkat premium dengan harga yang lebih terjangkau. Argumen lainnya menyoroti hak operator seluler dalam menagih sisa pembayaran jika pengguna memutuskan untuk membuka kunci perangkat sebelum jangka waktu pembayaran berakhir.

Mereka mempertanyakan wewenang FCC dalam memberlakukan tuntutan semacam itu, mengingat perangkat dibeli dengan perjanjian pembayaran, baik melalui operator seluler, bank, atau lembaga pemberi pinjaman lainnya. Sementara itu, para pendukung kebijakan FCC memandang kebijakan ini sebagai solusi untuk masalah ponsel terkunci. Mereka berpendapat bahwa setiap ponsel seharusnya tidak terkunci. Mereka percaya bahwa ponsel terkunci merupakan beban bagi konsumen. Mereka berpendapat bahwa operator seluler tidak seharusnya terlibat dalam bisnis penjualan dan pembiayaan perangkat, karena opsi pembiayaan dan harga yang lebih baik dapat diperoleh dari pihak lain.

Pendukung kebijakan ini juga menyoroti bahwa operator seluler seperti AT&T telah menjadikan jangka waktu pembayaran 36 bulan sebagai standar dalam dua tahun terakhir. Mereka menganggap hal ini tidak adil karena pengguna harus menunggu waktu yang lama untuk membuka kunci perangkat. Mereka juga mempertanyakan praktik operator seluler yang menggabungkan kredit promosional untuk penukaran perangkat dengan rencana pembayaran. Mereka berpendapat bahwa operator seluler seharusnya memberikan seluruh kredit promosional sekaligus, kemudian membiayai sisa pembayaran perangkat selama satu atau dua tahun.

Mereka menilai bahwa tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mencegah operator seluler menggunakan rencana pembayaran untuk mengikat pelanggan dalam kontrak jangka panjang dengan nama yang berbeda. Meskipun begitu, kebijakan ini masih belum pasti. Operator seluler dan konsumen memiliki kepentingan yang besar dalam keputusan akhir FCC. Masih belum jelas bagaimana rencana pembayaran akan berfungsi jika pengguna memutuskan untuk beralih operator di tengah jalan. Namun, hasil akhir dari kebijakan ini berpotensi untuk mengubah cara ponsel dijual dan didiskon oleh operator seluler besar di Amerika Serikat.