- D-Wave dan Rigetti Computing menghadapi risiko delisting dari bursa saham.
- Kedua perusahaan ini mengalami penurunan harga saham di bawah satu dolar.
- Investor kini lebih memilih AI generatif, meninggalkan komputasi kuantum yang masih menghadapi tantangan.
pibitek.biz -Pasar saham sedang menyaksikan realitas pahit dari ekosistem komputasi kuantum, di mana dua perusahaan terkemuka di industri ini menghadapi risiko delisting dari bursa saham. D-Wave dan Rigetti Computing, keduanya merupakan pemain utama dalam pengembangan teknologi komputasi kuantum, telah menerima peringatan dari bursa saham masing-masing karena harga saham mereka yang turun di bawah satu dolar Amerika. D-Wave, perusahaan yang dikenal karena pionirnya dalam teknologi quantum annealing, telah menerima pemberitahuan dari Bursa Saham New York (NYSE) pada tanggal 2 Oktober 2023.
2 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan 2 – AI Apple: Kekecewaan dan Keterlambatan
3 – Fitur Canvas ChatGPT Tampilkan Perubahan Teks 3 – Fitur Canvas ChatGPT Tampilkan Perubahan Teks
NYSE menyatakan bahwa D-Wave tidak memenuhi aturan perusahaan yang terdaftar karena harga saham rata-rata penutupan selama 30 hari perdagangan berturut-turut berada di bawah satu dolar. Sementara itu, Rigetti Computing, perusahaan yang berbasis di Berkeley, California, telah menghadapi penurunan harga saham yang terus menerus sejak akhir Juli 2023. Nasdaq Stock Market, tempat saham Rigetti diperdagangkan, telah memberikan peringatan serupa kepada perusahaan tersebut. Peringatan dari bursa saham tidak secara langsung mengancam keberadaan kedua perusahaan, namun ini bukan kali pertama mereka berada dalam situasi yang membahayakan.
Peringatan ini menyorot tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi industri komputasi kuantum saat ini. Industri komputasi kuantum, yang pernah menjanjikan terobosan besar dan solusi revolusioner untuk berbagai masalah ilmiah dan teknologi, kini menghadapi arus balik investasi. Investasi yang tadinya mengalir deras kini mulai mengering, sebagian besar disebabkan oleh pesimisme investor yang melihat potensi keuntungan yang lebih besar dalam sektor AI generatif (AI Generatiferatif), terutama dalam tren chatbot dan LLM.
Selain itu, pencapaian nyata dari sistem komputasi kuantum yang toleran terhadap kesalahan (fault-tolerant) masih jauh dari harapan awal. Para ahli dan investor kini mulai menyadari bahwa perjalanan menuju realisasi manfaat nyata dari komputasi kuantum akan berlangsung lebih lama dan menantang daripada yang diperkirakan sebelumnya. D-Wave, yang telah membangun reputasi dalam pengembangan quantum annealing, kini juga tengah berupaya mengembangkan teknologi quantum gate, yang menjadi fokus utama perusahaan lain di industri ini.
Dalam upaya untuk mengatasi masalah harga saham, D-Wave telah menyatakan bahwa mereka berencana untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan harga saham dan memenuhi standar bursa. Langkah-langkah yang direncanakan termasuk pemisahan saham (reverse stock split), yang dapat meningkatkan harga saham secara artifisial. Namun, keberhasilan strategi ini masih belum pasti. Rigetti Computing, yang pernah dianggap sebagai calon pemimpin dalam industri ini, menawarkan solusi komputasi hibrida yang menggabungkan komputasi klasik dan komputasi kuantum.
Perusahaan ini menghadapi tenggat waktu 180 hari kalender, atau hingga 17 Maret 2025, untuk meningkatkan harga saham agar memenuhi standar Nasdaq. Meskipun kedua perusahaan telah menyatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan semua opsi yang tersedia, termasuk pemisahan saham, tantangan yang dihadapi oleh industri komputasi kuantum mengindikasikan bahwa masa depan mereka masih diliputi ketidakpastian. Heather West, Research Manager for Quantum Computing Infrastructure Systems di IDC, menekankan bahwa komputasi kuantum, terutama sistem berbasis gate, masih dalam tahap awal perkembangan. "Meskipun terdapat momentum dalam pengembangan teknologi qubit logis dan koreksi kesalahan, para vendor masih menghadapi tantangan dalam menskalakan sistem kuantum untuk menghasilkan sejumlah besar qubit berkualitas tinggi yang diperlukan untuk memecahkan masalah dunia nyata yang bermakna", kata West. "Tantangan hardware ini perlu diselesaikan sebelum algoritma kuantum untuk aplikasi dunia nyata dapat dipetakan secara akurat ke dalam sirkuit, dan sirkuit ke dalam qubit", lanjutnya. West menambahkan bahwa industri komputasi kuantum telah kehilangan sebagian daya tariknya di mata investor. "Organisasi yang mencari pengembalian investasi jangka pendek mungkin melihat investasi AI sebagai pilihan yang lebih baik saat ini berdasarkan kematangan teknologi. Organisasi juga mungkin lebih cenderung berinvestasi pada vendor kuantum yang tampaknya lebih maju dalam pengembangan teknologi", ujarnya. Kendati demikian, belum jelas kapan dan vendor mana yang akan menghadirkan sistem yang skalabel dan mampu menyelesaikan masalah dunia nyata. West juga menyoroti kelemahan lain yang dihadapi oleh startup kuantum. "Pengembangan teknologi jangka panjang membutuhkan waktu dan uang. Sementara perusahaan teknologi yang mapan seperti IBM memiliki beragam arus pendapatan untuk diandalkan, startup seperti Rigetti hanya bergantung pada pendapatan kuantum mereka, yang merupakan salah satu alasan mengapa beberapa startup memasuki perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPACs)", katanya. "Meskipun memasuki SPACs dapat memiliki beberapa manfaat, mereka juga memiliki tantangan tersendiri, seperti memenuhi tuntutan investor", tambahnya.
Perusahaan-perusahaan komputasi kuantum, yang dulunya menjadi pusat perhatian dan menarik investasi besar, kini dihadapkan pada kenyataan pahit dari industri yang sedang mengalami masa-masa sulit. D-Wave, yang pernah dianggap sebagai pelopor dalam komputasi kuantum, terancam kehilangan tempatnya di bursa saham. Rigetti Computing, yang telah menjanjikan solusi inovatif untuk berbagai masalah, juga menghadapi nasib yang sama. Kejadian ini menunjukkan bahwa investor kini lebih memilih untuk berinvestasi pada teknologi yang memiliki potensi keuntungan jangka pendek yang lebih pasti, seperti AI generatif.
Komputasi kuantum, dengan teknologi yang masih dalam tahap awal, terlihat tertinggal dalam persaingan investasi. Para investor cenderung menghindari risiko yang lebih besar dan menantikan bukti nyata dari manfaat komputasi kuantum sebelum kembali berinvestasi. Peringatan delisting ini memberikan gambaran yang suram tentang masa depan komputasi kuantum. Industri ini masih harus mengatasi tantangan teknologi dan membuktikan nilai dan kegunaan teknologi ini dalam skala yang lebih luas. Dalam konteks ini, investor dan peneliti terus mempertanyakan perkembangan dan masa depan industri komputasi kuantum.
Jika perusahaan-perusahaan komputasi kuantum gagal untuk menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam teknologi dan aplikasi mereka, mereka mungkin akan semakin tertinggal dalam perlombaan investasi dan berisiko menjadi korban dari krisis industri yang sedang berlangsung. Hanya waktu yang akan menentukan apakah perusahaan-perusahaan komputasi kuantum dapat mengatasi tantangan ini dan menunjukkan potensi nyata dari teknologi mereka.