AI Bongkar Rahasia Lukisan Raphael



AI Bongkar Rahasia Lukisan Raphael - picture owner: gizmodo - pibitek.biz - ANN

picture owner: gizmodo


336-280
TL;DR
  • Tim peneliti ngebongkar rahasia lukisan Raphael pake AI dan sinar X.
  • AI ngebongkar detail tersembunyi di lukisan altar Raphael.
  • AI ngebantu ngecek detail lukisan dan ngebongkar bagian lukisan asli.

pibitek.biz -Tim peneliti super canggih baru saja nge-scan dua karya seni super terkenal buatan Raphael, seniman jaman Renaissance yang keren abis, pake sinar X. Gak cuma nge-scan, mereka juga pake AI (Artificial Intelligence) buat ngebongkar rahasia di balik bahan kimia dan warna lukisan tersebut. Karya seni yang mereka teliti adalah "God the Father" dan "Virgin Mary", dua bagian dari altar Baronci yang udah hancur. Altar ini adalah proyek pertama Raphael, yang selesai di tahun 1501. Di altar ini, Raphael menggambarkan sosok Setan, Bunda Maria, dan juga penobatan Santo Nicholas dari Tolentino oleh Tuhan Sang Bapa (makanya panel-panel ini dinamai begitu, haha).

Gimana Raphael bisa ngerjain proyek ini sambil kerja sampingan jadi kura-kura yang tinggal di selokan, susah dijelasin. Itu cuma joke ya, jangan diambil serius. Dalam penelitian yang baru aja dipublikasikan di Science Advances, tim peneliti ngambil data MA-XRF (macro X-ray fluorescence) dari kedua panel ini dan ngasih data tersebut ke jaringan saraf yang udah dilatih pake dataset sintetis yang berisi lebih dari setengah juta spektrum dari 57 pigmen dan senyawa. Dengan kata lain, mereka ngajarin AI untuk ngebongkar warna-warna yang keliatan di mata dan bahan kimia yang ngebuat warna tersebut dengan teliti abis.

Jaringan saraf ini diibaratkan otak manusia, bisa nerima dan ngartiin informasi, trus ngambil keputusan berdasarkan informasi tersebut. Setelah diolah oleh jaringan saraf ini, data sinar X dari panel-panel tersebut ngebongkar elemen kimia yang dipake Raphael lebih dari 500 tahun yang lalu. Warna putih di lapisan awal panel ini diidentifikasi sebagai berbasis timbal, sedangkan warna kulit tokoh-tokohnya mengandung vermillion merah, pigmen berbasis merkuri. Kamu pasti ngira kalau kain berwarna hijau yang ngelilingin Tuhan Sang Bapa itu terbuat dari tembaga.

Tapi ternyata, kain tersebut juga mengandung potassium, yang menunjukkan kalau catnya terbuat dari mineral seperti azurite atau resinat tembaga yang dicampur dengan pigmen kuning, menurut rilis AAAS. Tapi itu belum semuanya. Scan MA-XRF juga ngebongkar motif berlapis emas di kedua panel lukisan, yang tersembunyi di balik komposisi lukisan yang sekarang bisa kita liat. AI juga bisa nemuin bekas perbaikan yang terjadi selama bertahun-tahun, termasuk pigmen-pigmen yang ga sesuai zamannya. Dengan kata lain, AI bisa ngebongkar bagian lukisan asli yang ga jadi masuk ke dalam lukisan akhir, dan juga modifikasi yang dilakukan di kemudian hari.

Altar ini udah ada di sebuah gereja di Umbria selama tiga abad sebelum akhirnya rusak parah di tahun 1789 akibat gempa bumi. Kepingan-kepingan altar yang selamat kemudian dipisahkan. Panel yang ga rusak lalu berpindah-pindah tangan, dipegang oleh Paus Pius VI sebelum direbut oleh Napoleon dan ditempatkan di Mus?e Napol?on (sekarang Louvre). "God the Father" dan "Virgin Mary" kemudian dibawa ke Naples dan disimpan di sana sampai sekarang. Kamu bisa baca sejarah lengkap dari panel altar ini di situs web Frick Collection.

Karena tim peneliti ngelatih model AI pake data sintetis, mereka punya jawaban yang bener untuk ngecek performa modelnya. Model ini lebih akurat di area-area yang susah dipisahkan, alias susah dibedain informasi yang bener dari yang ga bener, terutama di bagian panel yang dilukis Raphael dengan banyak pigmen. Di area-area ini, penggunaan pigmen dan senyawa yang campur aduk bikin algoritma dekonvolusi tradisional susah ngebaca elemen kimia yang terdeteksi oleh MA-XRF. Para penulis penelitian ngasih tahu kalau model AI mereka bisa ngalahin keterbatasan dan artefak yang biasanya terjadi di metode analisis dekonvolusi tradisional.

Ke depannya, penelitian kayak gini bisa bantu strategi konservasi karya seni yang super berharga, dan juga ngebongkar detail tersembunyi yang susah dideteksi pake cara lain. Minggu ini emang rame banget buat sistem AI dan analisis gambar. Awal minggu ini, tim peneliti lain ngelatih jaringan saraf pake gambar geoglyph (karya seni tanah) dan berhasil menemukan lebih dari dua kali lipat jumlah garis Nazca, yaitu kumpulan geoglyph monumental di Peru. Kegunaan utama dari AI ini adalah, AI bisa ngerjain tugas yang sama kayak ahli manusia, tapi jauh lebih cepet.

Dalam kasus garis Nazca, peneliti ngajak arkeolog buat ngecek gambar yang AI anggap sebagai geoglyph, biar mereka yakin kalau AI bener-bener bisa ngebantu. AI emang keren banget, tapi AI ga bisa ngegantiin pekerjaan manusia sepenuhnya. Karena manusia masih harus ngecek dan ngevalidasi hasil kerja AI. AI sekarang udah canggih banget, bisa ngebongkar rahasia lukisan, nemuin geoglyph baru, bahkan diklaim bisa ngelatih pengacara! Tapi, kayaknya kita masih perlu hati-hati sama AI, karena teknologi ini masih berkembang dan ga selalu akurat.

Bayangin aja, AI bisa ngelatih pengacara dan ngebongkar rahasia di balik lukisan, tapi di sisi lain, AI juga bisa ngebikin berita bohong yang super realistis. AI memang punya potensi yang besar buat ngebantu kita ngerjain berbagai hal, tapi kita juga harus teliti dan bijak dalam ngegunain teknologi ini. Jangan sampe kita terlena dengan kecanggihan AI dan lupa sama potensi negatifnya.