Laptop Gaming Desktop: Atasi Batasan Fisik



Laptop Gaming Desktop: Atasi Batasan Fisik - credit to: pcworld - pibitek.biz - CPU

credit to: pcworld


336-280
TL;DR
  • Socket Science bikin laptop gaming desktop yang powerful dengan komponen desktop.
  • Menjejalkan motherboard desktop ke casing laptop dengan teknologi 3D.
  • Laptop gaming desktop yang unik, tapi tidak ada baterainya.

pibitek.biz -Laptop gaming, perangkat yang dulu dipandang sebelah mata oleh para gamer PC sejati, kini telah menjelma menjadi kekuatan yang tak bisa diremehkan. Perkembangan teknologi telah memungkinkan laptop gaming untuk menyaingi performa desktop gaming, bahkan untuk kebutuhan gaming yang paling menuntut. Namun, bagi para penggemar performa ekstrem, desktop gaming tetap menjadi pilihan utama. Mengapa? Karena desktop gaming memberikan keleluasaan dalam memilih dan menggabungkan komponen-komponen terbaik, tanpa terbatasi oleh faktor ukuran dan mobilitas.

Namun, seorang YouTuber bernama Socket Science punya cara pandang yang berbeda. Dia punya ambisi untuk memadukan kekuatan desktop gaming dengan fleksibilitas laptop gaming, menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ambisinya ini terwujud dalam sebuah proyek ambisius, yaitu merakit PC desktop ke dalam sebuah casing yang menyerupai laptop.Prosesnya tidaklah mudah, seolah-olah Socket Science sedang membangun sebuah keajaiban teknologi. Ia menghabiskan waktu 14 bulan dan mengeluarkan banyak sekali "kata-kata kotor" dalam proses ini.

Bayangkan, merakit PC desktop yang biasanya berada di meja, kini harus dijejalkan ke dalam sebuah casing yang jauh lebih kecil. Tantangannya tidak hanya soal ukuran, tapi juga soal pendinginan, karena komponen-komponen desktop menghasilkan panas yang lebih tinggi. Hasil akhirnya terlihat seperti sebuah laptop gaming biasa, namun dengan dimensi yang lebih besar. Bentuknya mengingatkan kita pada laptop gaming kelas atas, dengan casing yang kokoh dan desain yang agresif. Tapi di balik casing itu, tersembunyi komponen-komponen desktop yang powerful.

Socket Science telah berhasil menjejalkan motherboard desktop, prosesor desktop, GPU desktop, RAM desktop, dan berbagai komponen lainnya ke dalam ruang yang terbatas. Pertanyaan muncul, kenapa laptop gaming tidak bisa sama powerfulnya dengan desktop, padahal speknya sama? Jawabannya terletak pada batasan fisik. Laptop gaming memiliki ruang yang terbatas, sehingga komponen-komponennya harus dirancang lebih kecil dan lebih hemat energi agar tidak mudah panas.Coba bayangkan, jika kamu memaksa komponen desktop yang panas itu masuk ke casing laptop yang sempit, bisa kepanasan dan meleleh.

Maka, jika kamu menginginkan laptop gaming yang bisa dibawa-bawa dan ngga gampang ngebul, ya harus rela ngorbanin sedikit performa. Tapi, Socket Science tidak mau menyerah. Dia memutuskan untuk mengakali batasan fisik tersebut. Dia memakai motherboard mini-ITX A520, prosesor AMD Ryzen 5 5600X, GPU AMD Radeon RX 6600, RAM low-profile, dan storage M. 2 2280. Untuk komponen yang mirip laptop, dia memilih keyboard tipis, touchpad, dan monitor portable USB. Kombinasi ini sudah cukup untuk membangun laptop gaming desktop yang powerful.

Namun, perjalanan ini baru merupakan awal dari sebuah perjuangan. Socket Science harus memotong port-port di motherboard yang tidak terpakai, melepas pendingin CPU dan GPU, dan menggunakan riser cable untuk meratakan kartu grafis. Dia juga mendesain dan mencetak casing utama dengan teknologi 3D. Untuk sistem pendingin, dia membangun sistem pendingin sendiri menggunakan pelat kontak tembaga, heatpipe, dan heatsink yang dibeli dalam jumlah besar. Dia bahkan menekuk heatpipe sendiri agar sesuai dengan bentuk yang dia inginkan.

Socket Science sadar bahwa komponen yang powerful memerlukan sistem pendingin yang mumpuni. Kipas elektronik biasa tidak akan cukup. Maka, dia mendesain dan mencetak 3D kipasnya sendiri, yang kemudian dipasang di motor pendingin AMD di box CPU. Kipas desktop GPU juga dia utak-atik agar bisa berfungsi dengan baik. Setelah komponen inti berhasil diinstal, Socket Science mulai merakit bagian lainnya. Keyboard, trackpad, dan monitor USB dapat langsung dipasang ke casing 3D. Monitor USB-nya dilengkapi dengan speaker, jadi tinggal pasang saja.

Untuk memberikan kesan laptop gaming, dia menambahkan sentuhan warna tembaga dan logo pada casingnya. Hasilnya, laptop gaming desktop Socket Science bisa berfungsi dengan baik. Cuma sih, agak aneh bentuknya. Dan yang bikin ngeselin, mesin ini tidak bisa disebut sebagai laptop gaming sejati karena tidak ada baterainya. Kalo kamu ingin membuat laptop gaming desktop sendiri, bersiaplah untuk mengeluarkan uang dan waktu. Dan jika kamu tidak memiliki gelar teknik mesin dan waktu luang selama setahun lebih untuk merakitnya, lebih baik membeli laptop gaming yang bisa di bongkar-pasang seperti Framework 16.