Pengacara Hitung Tagihan Pakai ChatGPT, Malah Kena Potong



TL;DR
  • Pengacara pakai ChatGPT buat hitung fee, kena potong.
  • Hakim bilang ChatGPT nggak bisa jadi patokan tarif.
  • ChatGPT bikin kontroversi di dunia hukum.
Pengacara Hitung Tagihan Pakai ChatGPT, Malah Kena Potong - picture source: fortune - pibitek.biz - Data

picture source: fortune


336-280

pibitek.biz - Michael Cuddy punya ide kreatif untuk pakai ChatGPT, sebuah alat AI Generatif, untuk hitung tarif jam kerjanya. Tapi ide itu malah bikin dia rugi. Dia adalah partner di sebuah firma hukum di New York yang pakai namanya. Dia ngajuin tagihan sebesar 113.500 dollar AS ke pengadilan untuk bayar jasanya. Tapi hakim potong setengah tagihannya. Hakim bilang, ngitung tarif 550 dolar AS per jam pakai alat AI itu nggak masuk akal.

"Singkatnya, argumen Cuddy Law Firm yang pakai ChatGPT buat dukung tawaran fee-nya itu nggak meyakinkan sama sekali", tulis Hakim Paul Engelmayer di pendapatnya. Dia bilang, tarif itu jauh di atas standar wajar. Dia juga nanya, data apa yang dipakai ChatGPT buat bikin kesimpulan itu.

Apa data itu beneran relevan atau cuma karangan doang. Ini jadi masalah, soalnya alat AI Generatif bisa bikin informasi palsu seenaknya. "Nganggap hasil ChatGPT sebagai patokan tarif yang wajar buat kerjaan pengacara dengan latar belakang dan klien tertentu itu salah besar", kata dia.

Cuddy berhasil menangin gugatan melawan Departemen Pendidikan New York atas nama seorang ibu dan anaknya yang berkebutuhan khusus. Biasanya, penggugat yang harus bayar fee pengacara. Tapi berdasarkan Undang-Undang Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus, pengadilan bisa kasih fee yang wajar buat orang tua yang menang.

Peran AI di ruang sidang jadi isu panas di kalangan pengacara setelah ChatGPT nunjukin kemampuan alat AI Generatif. Joshua Browder, CEO dari firma hukum algoritma DoNotPay, nawarin $1 juta buat pengacara yang berani berdebat di Mahkamah Agung cuma pakai instruksi dari software-nya lewat AirPods. Terakhir kali chatbot OpenAI bikin heboh dunia hukum itu tahun lalu di kasus Mata v.

Avianca. Seorang pengacara New York dengan pengalaman 30 tahun kena sanksi karena pakai ChatGPT buat riset. Steven Schwartz dari Levidow Levidow & Oberman ngajuin pembelaan buat kliennya yang minta ganti rugi dari maskapai Kolombia itu.

Tapi dia pakai preseden hukum yang lengkap dengan kutipan kasus yang ternyata cuma fiksi. Engelmayer punya saran berguna buat Cuddy dan pengacara lain yang mau pakai ChatGPT buat kerjaan mereka. "Kecuali ada perubahan besar di keandalan alat ini", kata dia, Cuddy "harus hapus referensi ke ChatGPT dari permohonan fee-nya di masa depan".